Rabu, 20 Agustus 2008

PERJALANAN..




Perjalanan hidup itu panjang atau pendek? Usia rata-rata setiap orang di dunia ini sekarang tidak lebih dari 100 tahun. Dapat dikatakan panjang atau pendek, tergantung dari sudut pandangan dan persepsinya masing-masing.

Ibarat kita mau mengadakan perjalanan ke suatu tempat, apakah kita mau jalan kaki, naik sepeda, motor, mobil, kereta api, pesawat atau yang lainnya. Maka jarak ke satu tujuan bisa sama, tetapi lama perjalanan bisa berbeda.
Apalagi kalau dalam mencapai ke tujuan kita bisa menikmati selama dalam perjalanan atau hanya tidur saja atau sambil lalu atau yang lainnya, maka masing-masing akan menceriterakan kisah perjalanannya berbeda-beda.
Nah...apalagi dalam perjalanan hidup, maka semua merupakan misteri dalam kehidupan kita masing-masing dan setiap orang akan mempunyai kisah hidupnya sendiri-sendiri. Walau boleh dikatakan kita semua punya tujuan yang sama, yaitu menjalani hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Tapi hal itu merupakan hal yang sulit kita cerna dengan akal kita.
Maka alangkah indahnya kalau kita isi perjalanan hidup kita ini dengan kebaikan dan kebajikan.
Kita jalani hidup ini secara "positive thinking" dan dapat bersosialisasi dengan masyarakat secara nyata dan terarah.
Misteri hidup....
Kita tidak tahu bagaimana dan kemana hidup kita...
Tapi kita tahu arah kemana kita hidup ini menurut agama dan kepercayaan kita masing-masing.
RBM. Sutartomo


Jumat, 11 April 2008

Indonesia kaya dengan obyek wisata dan punya nilai jual bagi Devisa Negara


Indonesia itu indah...Indonesia itu kaya dengan keindahan alamnya..! Ini perkataan seseorang  dari negara tetangga, baik Singapura, Malaysia, Thailand, dst. Sebenarnya Indonesia mempunyai nilai jual di dunia wisata yang bagus dengan alam dan warisan kebudayaannya.
Tapi mengapa kita belum bisa menarik para wisatawan Manca Negara semaksimal mungkin untuk mendatangkan para wisatawan tersebut seperti negara-negara tetangga Singapura, Malaysia, dan Thailand?
Tempat Wisata Indonesia identik dengan Bali, Yogya, Solo...dan juga Sumut, Bunaken....!
Memang, ini dibutuhkan kerja keras bagi bangsa Indonesia untuk memaksimalkan potensi wisata. Tentu saja dibutuhkan partisipasi dari semua pihak, mulai dari program pemerintah, Menteri Pariwisata, Dinas Pariwisata, Biro-biro Travel, dan masyarakat Indonesia untuk turut serta mengembangkan potensi wisata di wilayah atau daerahnya masing-masing, sehingga mempunyai nilai jual untuk para Wisman (Wisatawan Macanegara) maupun Wisdom (Wisatawan Domestik).
Apa yang diperlukan?
1. Promo dari Pemerintah dan biro-biro travel
2. Pengelolaan obyek wisata
3. Partisipasi dari masyarakat
4. Ada nilai jual yang menarik atau spesifik dari daerah obyek wisata.
5. dsb.
Cukupkah?
Keramahtamahan, keamanan, kenyamanan, dan pelayanan yang baik untuk para Wisman dan Wisdom penting untuk diperhatikan dan jangan sampai terlupakan.

RBM. Sutartomo
to_ro03@yahoo.co.id

Dapatkah peninggalan kerajan Sriwijaya menjadi obyek-obyek wisata di palembang - sumatera selatan?


Kerajaan Sriwijaya pernah lahir dan sangat terkenal di dunia pada zamannya. Bahkan I Tsing seorang musafir dari Cina pernah mempelajari tentang agama Budha di Kerajaan Sriwijaya dengan minta ijin pada Kaisarnya. Sebelumnya I Tsing belajar tentang agama Budha ke India dan kembalinya singgah ke Sriwijaya dan akhirnya Ia tertarik untuk memperdalam ilmu agama Budha ke Kerajaan Sriwijaya, karena telah Berdiri perguruan tinggi (Sakhyakirti..?) dengan pengajar-pengajarnya yang hebat (para Cakyamuni..?).

Nah..tentu saja Kerajaan Sriwijaya mempunyai peninggalan-peninggalan yang sangat menarik, apalagi dengan ditemukan beberapa prasasti, seperti: Kedukan Bukit, Talang Tuo, Kota Kapur, Karang Berahi, Ligor A dan B, Boom Baru, dan sebagainya.
Sebagai contoh peninggalan Patung-patung dan Kubur Batu Megalith di Pasemah, Pagar Alam. Hanya sayang, kurang terpelihara sehingga menimbulkan kesan sangat terlantar.

Kemudian ada seorang arkeolog Lulusan UI mencoba mengadakan Ekskavasi situs kerajaan Sriwijaya dan berhasil menemukan situs di daerah Karanganyar, Palembang yang kemudian dibuat Cagar Budaya dan Taman bahkan akhirnya diresmikan oleh Presiden Soeharto.
Sejauh pantauan penulis, situs inipun juga kurang terpelihara dan belum mendapat sentuhan pengeloaan yang maksimal.
Bagaimana dengan situs Pusat kerajaan Sriwijaya? Mungkin bagi para Arkeolog dan Sejarahwan ini merupakan tantangan yang harus dijawab!
Sebagai kerajaan maritim, tentu Kerajaan Sriwijaya mempunyai dermaga-dermaga di sepanjang sungai Musi, tapi mungkin sampai detik ini belum dapat dipastikan dimana keberadaannya sebagai halnya pusat kerajaan Sriwijaya yang akurat berdasarkan bukti-bukti yang bersifat ilmiah.
Mungkin dapat menyimak dari buku "Kedatuan Sriwijaya" karangan J. Casparis dan C. Coedes atau "Sriwijaya", karangan Slamet Moelyono, untuk mencoba menelusuri jejak kerajaan Sriwijaya yang begitu Besar di zamannya, tetapi sekarang tenggelam tertelan oleh waktu tanpa diketahui secara akurat dan belum dapat ditemukan bukti-bukti ilmiah dimana pusat-pusat pemerintahan Kerajaan Sriwijaya berada.

Penulis hanya bisa "meraba", apakah pusat Kerajaan Sriwijaya selalu berpindah-pindah?
Dari isi prasasti-prasasti yang ditemukan, mayoritas berisi kutukan-kutukan terhadap suatu wilayah bukan sebagai penghargaan atau pendirian suatu tempat sebagaimana lazimnya dari prasasti-prasasti.
 
Nah.. ini tantangan yang harus kita jawab sebagai warga Palembang dan Sumatera Selatan pada umumnya.

RBM. Sutartomo
SMA Xaverius 1 Palembang
to_ro03@yahoo.co.id

Kamis, 10 April 2008

blogger di dunia maya


Ada seorang blogger yang menuliskan tentang sejarah, bahkan ada mahasiswa/mahasiswi yang menggunakan blogger untuk mendapatkan informasi dan masukan untuk skripsinya, juga seorang guru yang dipakai sebagai media dalam pengajarannya, dan sebagainya.  Ini merupakan kelebihan teknologi di dunia internet yang menjanjikan semuanya akan bisa secara mendunia (globalisasi).

Bayangkan akses Blogger ini dapat dimiliki secara gratis kepada siapa saja yang menggunakannya. Hal yang sangat langka didapatkan di dunia yang sudah menjamur wabah komersialisasi ini.
Nah...siapa tidak tertarik?   Aneh kan?
Hayo kita ramai-ramai jadi Blogger untuk mendapatkan dan memberikan informasi kepada siapa saja dalam konteks apa saja...!

wisata bahari palembang


Palembang, kota tua yang tlah tertulis dalam prasasti Kedukan Bukit kerajaan Sriwijaya dengan nama Pa-lim-fong. Merupakan daerah yang didirikan para pedagang dari Cina yang membaur dengan penduduk setempat. daerah yang semula sangat sepi, akhirnya menjadi ramai dan bahkan menjadi pusat perdagangan.
Palembang kian mencuat ke dalam peristiwa sejarah dengan berdirinya Kesultanan Palembang menggantikan nama besar Kerajaan Sriwijaya.
Bahkan Bung Karno memberikan hadiah kepada masyarakat Palembang dengan Jembatan Ampera yang bersifat Monumental setelah zaman kemerdekaan, sehingga transportasi dan mobilitas sosial semakin tinggi dan lancar.
Sekarang di Era Globalisasi bahkan Pemda mencanangkan Visit Musi Year 2008. Hal yang tidak mustahil bila melihat dari rentetan sejarah Palembang yang penuh dengan peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah daerah di Indonesia.

Sekarang bagaimana kita sebagai masyarakat Palembang dapat menjaring para Wisman (Wisatawan Mancanegara) dan Wisdom (Wisatawan Domestik) agar tertarik dan dapat menikmati peninggalan sejarah sejak Kebesaran Kerajaan Sriwijaya hingga sekarang?
Ini merupakan Home Work (Pekerjaan Rumah) bagi warga Masyarakat Palembang, bagaimana dapat dan ikut berpartisipasi dalam menjaring para Wisman dan Wisdom, sehingga daerah kita punya "Nilai Jual" untuk para Wisatawan tersebut.
Ini sudah memasuki bulan ke empat di tahun 2008, maka perlu adanya evaluasi-evaluasi yang berkaitan dengan Program "Visit Musi Year 2008" tersebut.

Keberhasilan mengelola dunia wisata dapat mendongkrak kesejahteraan masyarakat setempat dan menaikkan Devisa Negara. Why Not?!

RBM. Sutartomo
SMA Xaverius 1 Palembang
to_ro03@yahoo.co.id