Selasa, 04 November 2008

Hidup


Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial, maka hidupnya tak terpisahkan dengan yang lainnya. Homo Socius dalam bahasa latinnya, sehingga rasa kebersamaan dengan manusia lainnya merupakan naluri yang tak bisa dipungkiri. Kita sering melihat orang yang meyombongkan diri tanpa tergantung pada oran lain, sebenarnya merupakan hal yang mustahil, sebab ia pasti akan berhubungan dengan orang lainnya. Rasa egois yang menyebabkan mereka berpikiran seperti itu dan dalam bahasa psikologisnya ia tidak bisa menyeimbangkan antara ID, EGO, dan SUPER EGOnya.

Hal ini sekarang timbul diperkotaan dalam kehidupan yang kompleks, apalagi hidup dalam kompleks perumahan yang satu sama lain tidak saling kenal dan tidak mau mengenal tetangganya. Masalah ini dipicu dengan kehidupan dunia kerja, karena waktu habis digunakan untuk bekerja, bahkan dengan keluarga saja sulit untuk berkomunikasi. Sehingga menimbulkan masalah keluarga atau broken home. Sebenarnya keluarga merupakan suatu kelompok sosial yang terkecil sebagai keluarga inti atau nuclear family. ini harus dibina agar rasa kekeluargaan dasar bisa terjamin dengan baik.
Andai orangtua, baik suami atau istri semua bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga, hendaknya tetap mempertahankan adanya komunikasi dalam keluarga, entah dengan makan malam bersama atau syukur dapat rekreasi keluarga satu atau dua minggu sekali sebagai program dalam hidup berkeluarga.
Tapi yang terjadi sering orang tua sibuk bekerja dengan dalih untuk anak-anaknya, tapi tidak ada komunikasi yang baik dalam keluarga tersebut, karena ada orangtua yang sudah merasa bertanggungjawab dengan hanya memenuhi kebutuhan materi dari keluarganya. Padahal komunikasi dalam keluarga sangatlah penting, karena masing-masing anggota keluarga bisa menyampaikan masalah-masalah atau problem yang dialami dan kemudian di-Sharing-kan bersama untuk mendapatkan solusinya.
Tetapi terlalu protect atau melindungi anak tanpa dasar yang jelas dan umum di masyarakat juga bukan jalan yang terbaik walau dengan dalih dapat menjauhkan anak dari pergaulan bebas yang tidak baik dalam kehidupan sosial, seperti: Free Seks, Narkoba, Premanisme, dan sebagainya. Hal ini akan membatasi perkembangan jiwa anak, sehingga ia akan sulit untuk hidup bermasyarakat dan justru akan menjerumuskan masa depan anaknya sendiri.

Lalu bagaimana sebaiknya hal-hal yang dilaksanakan dilakukan dalam keluarga?

1. Kita harus mengetahui psikologi perkembangan anak.
2. Menyiapkan kebutuhan yang diperlukan untuk masa depan anaknya.
3. Mendidik anak dengan baik sesuai bakat dan kemampuannya.
4. Tidak memaksakan kehendaknya pada anak, walau sebagai orangtua.
5. Mendasari kehidupan moral dan religius anak dengan baik.
6. Menanamkan rasa kepercayaan diri pada anak-anaknya.
7. Menanamkan rasa kedisiplinan pada anak dalam belajar, bekerja, dan bergaul atau bersosialisasi.
8. Memberikan petuah, saran, usul, teguran, dan hukuman dengan bijaksana, tanpa pilih kasih kepada semua anak-anaknya.
9. Dan sebagainya.

Kontrol sosial suatu hal yang sangat penting dalam kehidupan, semua saling menjaga, mengawasi, dan memberikan masukan serta saling kontrol dalam setiap anggota keluarga. Keluarga yang harmonis, sejahtera, dan bahagia adalah keluarga yang dapat saling memberikan perhatian dan kontrol sosial satu dengan yang lainnya, sehingga setiap masalah baik kecil atau besar dapat diselesaikan dengan baik secara musyawarah dan damai.

Masyarakat, bangsa, dan negara yang damai dan sejahtera didasari mulai dari kehidupan keluarga. Maka setiap keluarga dapat menentukan baik buruknya dan masa depan suatu bangsa dan negara. Benarkah?
Simak dengan teliti dalam kehidupan nyata, pergaulan di masyarakat,dan dunia kerja serta birokrasi dalam pemerintahan. Renungkan...!
Apa yang akan anda dapatkan dari situ..!

RBM. Sutartomo

Tidak ada komentar: