Jumat, 11 April 2008

Dapatkah peninggalan kerajan Sriwijaya menjadi obyek-obyek wisata di palembang - sumatera selatan?


Kerajaan Sriwijaya pernah lahir dan sangat terkenal di dunia pada zamannya. Bahkan I Tsing seorang musafir dari Cina pernah mempelajari tentang agama Budha di Kerajaan Sriwijaya dengan minta ijin pada Kaisarnya. Sebelumnya I Tsing belajar tentang agama Budha ke India dan kembalinya singgah ke Sriwijaya dan akhirnya Ia tertarik untuk memperdalam ilmu agama Budha ke Kerajaan Sriwijaya, karena telah Berdiri perguruan tinggi (Sakhyakirti..?) dengan pengajar-pengajarnya yang hebat (para Cakyamuni..?).

Nah..tentu saja Kerajaan Sriwijaya mempunyai peninggalan-peninggalan yang sangat menarik, apalagi dengan ditemukan beberapa prasasti, seperti: Kedukan Bukit, Talang Tuo, Kota Kapur, Karang Berahi, Ligor A dan B, Boom Baru, dan sebagainya.
Sebagai contoh peninggalan Patung-patung dan Kubur Batu Megalith di Pasemah, Pagar Alam. Hanya sayang, kurang terpelihara sehingga menimbulkan kesan sangat terlantar.

Kemudian ada seorang arkeolog Lulusan UI mencoba mengadakan Ekskavasi situs kerajaan Sriwijaya dan berhasil menemukan situs di daerah Karanganyar, Palembang yang kemudian dibuat Cagar Budaya dan Taman bahkan akhirnya diresmikan oleh Presiden Soeharto.
Sejauh pantauan penulis, situs inipun juga kurang terpelihara dan belum mendapat sentuhan pengeloaan yang maksimal.
Bagaimana dengan situs Pusat kerajaan Sriwijaya? Mungkin bagi para Arkeolog dan Sejarahwan ini merupakan tantangan yang harus dijawab!
Sebagai kerajaan maritim, tentu Kerajaan Sriwijaya mempunyai dermaga-dermaga di sepanjang sungai Musi, tapi mungkin sampai detik ini belum dapat dipastikan dimana keberadaannya sebagai halnya pusat kerajaan Sriwijaya yang akurat berdasarkan bukti-bukti yang bersifat ilmiah.
Mungkin dapat menyimak dari buku "Kedatuan Sriwijaya" karangan J. Casparis dan C. Coedes atau "Sriwijaya", karangan Slamet Moelyono, untuk mencoba menelusuri jejak kerajaan Sriwijaya yang begitu Besar di zamannya, tetapi sekarang tenggelam tertelan oleh waktu tanpa diketahui secara akurat dan belum dapat ditemukan bukti-bukti ilmiah dimana pusat-pusat pemerintahan Kerajaan Sriwijaya berada.

Penulis hanya bisa "meraba", apakah pusat Kerajaan Sriwijaya selalu berpindah-pindah?
Dari isi prasasti-prasasti yang ditemukan, mayoritas berisi kutukan-kutukan terhadap suatu wilayah bukan sebagai penghargaan atau pendirian suatu tempat sebagaimana lazimnya dari prasasti-prasasti.
 
Nah.. ini tantangan yang harus kita jawab sebagai warga Palembang dan Sumatera Selatan pada umumnya.

RBM. Sutartomo
SMA Xaverius 1 Palembang
to_ro03@yahoo.co.id

Tidak ada komentar: